Indonet7.com Jakarta — Bertempat di Gedung Stovia Jl. Abdurrahman Saleh No. 26 Jakarta Pusat, setelah 4 tahun hadir kembali di Jakarta Biennale kembali lagi, setelah tertunda selama 4 tahun. This November, the Jakarta Biennale returns for the first time in four years. Tahun 2021 ini, Dolorosa Sinaga, pematung dan aktivis kemanusiaan, berperan sebagai Direktur Artistik Jakarta Biennale, bersama Direktur Program Farah Wardani menggagas tema ESOK.
ESOK adalah sebuah konsep dimana Jakarta Biennale merupakan sebuah persembahan bagi kota Jakarta dan penduduknya yang telah begitu menderita selama pandemi, sekaligus sebagai sebuah ajakan dan panggilan untuk membangun masa depan yang penuh harapan, lebih lenting, dan lebih kreatif.
Tiga kurator Grace Samboh (Indonesia), Sally Texania (Indonesia), dan Oinyi Lim (Singapura), bergabung untuk menggarap proses kuratorialnya. Proses kuratorial mengenai tema ESOK ini telah dimulai sejak akhir 2019.
ESOK dibayangkan sebagai sebuah tantangan bagi para seniman untuk mewujudkan visi masing-masing. Tantangan ini menyentuh berbagai permasalahan kehidupan hari ini: hak asasi manusia, krisis iklim, keberagaman, pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, diskursus kebudayaan, hingga gangguan digital dan situasi pandemi.
Melalui pendekatan “aktivisme kuratorial”, strategi dan praktek seni dihadirkan lewat beragam medium, platform, ruang fisik dan virtual, seni relasional dan partisipatoris, serta arsip sebagai basis pengkaryaan dan produksi pengetahuan. Dengan itu, ESOK ingin mengajak warga, dan semua yang terdampak pandemi, untuk terlibat dalam percakapan tentang apa yang dapat dilakukan bersama dan bagaimana praktek seni bisa berkontribusi terhadap ekosistem seni dan kota sebagai sebuah peristiwa sosial, terutama atas apa yang telah terjadi selama hampir dua tahun terakhir ini.
Tiga kurator Grace Samboh (Indonesia), Sally Texania (Indonesia), dan Oinyi Lim (Singapura), bergabung untuk menggarap proses kuratorialnya. Proses kuratorial mengenai tema ESOK ini telah dimulai sejak akhir 2019.
ESOK dibayangkan sebagai sebuah tantangan bagi para seniman untuk mewujudkan visi masing-masing. Tantangan ini menyentuh berbagai permasalahan kehidupan hari ini: hak asasi manusia, krisis iklim, keberagaman, pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, diskursus kebudayaan, hingga gangguan digital dan situasi pandemi.
Melalui pendekatan “aktivisme kuratorial”, strategi dan praktek seni dihadirkan lewat beragam medium, platform, ruang fisik dan virtual, seni relasional dan partisipatoris, serta arsip sebagai basis pengkaryaan dan produksi pengetahuan. Dengan itu, ESOK ingin mengajak warga, dan semua yang terdampak pandemi, untuk terlibat dalam percakapan tentang apa yang dapat dilakukan bersama dan bagaimana praktek seni bisa berkontribusi terhadap ekosistem seni dan kota sebagai sebuah peristiwa sosial, terutama atas apa yang telah terjadi selama hampir dua tahun terakhir ini.
(May)
INDONET7 Terupdate & Terpercaya