Prioritas Satgas Mafia Tanah Dalam Penegakan Hukum di Masyarakat Sulawesi Barat

Indonet7.com Jakarta 19 Desember 2021-Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Nomor 5 tahun 2018, tentang pengukuran tata kelola Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang ditandangani oleh Kapolri (saat itu) Jenderal Pol Tito Karnavian, secara tegas menyebutkan tentang bagaimana pelayanan petugas kepolisian dalam melayani segala kebutuhan masyarakat yang berhubungan dengan hukum yang berlaku.
Namun, setelah sekian lama, peraturan tersebut diberlakukan, masih saja belum bisa berlaku sepenuhnya di jajaran kepolisian.
Lebih lanjut, Salah satu poin, yang menjadi program 13 prioritas Kapolri saat ini, yang dijabat oleh Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo adalah kegiatan di dalam proses penegakan hukum yang memenuhi rasa keadilan masyarakat terkait dengan Satgas Mafia tanah. Program Prioritas ini menjadi jargon bagi polisi dalam menjalankan hal-hal yang terkait dengan pelayanan dan mafia tanah di seluruh wilyah Indonesia. Begitupun dengan persoalan pelayanan
Namun, hal ini (Program prioritas Kapolri) tidak sepenuhnya menjadi tolak ukur dalam penerapannya, karena masih saja ada beberapa bagian yang luput dari perhatian aparat. Salah satu contoh adalah banyaknya kasus laporan dugaan mafia tanah yang “tidak disentuh” oleh kepolisian, seperti halnya mafia tanah yang terjadi di Sulawesi Barat, tepatnya di Mamuju.
Begitupun dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang menjadi ujung tombak persoalan tanah. Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2017, tentang Standar Pelayanan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, yang ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 17 Maret 2017, oleh Direktur Jenderal Peraturan perundang-undangan, Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik indonesia, yang ditandangani oleh Widodo Ekatjahjana. Dimana salah satu kantor BPN yang menutup-nutupi beberapa persoalan tanah, ketika sang pemilik mencoba mencari tahu persoalan yang terjadi pada lahan yang ia miliki. Kembali hal ini juga terjadi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Hal terkait Mafia Tanah, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah mengeluarkan Petunjuk Teknis dengan mengeluarkan Petujuk Teknis No. 01/JUKNIS/D.VII/2018 tentang Penceghan dan Pemberantasan Mafia Tanah, yang ditandatangani pada tanggal 10 April 2018, di Jakarta, oleh a.n. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah, R. B. Agus Widjayanto, SH, M.Hum.
“Sudah setahun yang lalu, saya memasukkan Laporan Persoalan Tindak Pidana Penggelapan (Tentang Agunan Sertifikat Tanah) ke Polres setempat, namun hingga hari ini, belum ada informasi lebih lanjut yang saya peroleh dari Polres” ungkap salah satu Owner Perusahaan Developer yang berdomisili di Mamuju kepada awak media, 19/12/2021, saat di temui di salah satu Coffee shop di bilangan Senen, Jakarta Pusat.
“Begitupun dengan BPN Mamuju, saya sebagai owner PT. DCM hanya ingin meminta kejelasan atas status tanah warisan milik kami, namun fihak BPN enggan menunjukkan dan menjelaskannya” lanjutnya lagi
“Ketika berhadapan dengan Bank Tabungan Negara (BTN), menanyakan perihal kredit dengan agunan tanah tersebut, saya sempat shock, karena dalam keterangan fihak BTN, tanah tersebut sudah dipecah atas beberapa bagian, dan berbeda kepemilikan. Apakah Penyelesaian sisa kredit yang tidak lama lagi akan selesai di tambah dengan meninggalnya owner PT. DCM, kemudian membuat Agunan dapat berubah tanpa sepengetahuan ahli waris ataupun owner lainnya? Pertanyaan saya sederhana, bagaimana mungkin tanah itu bisa dipecah, jika masih dalam agunan kredit perusahaan, lalu kenapa tidak ada konfirmasi lebih dahulu, kepada saya selaku owner PT. DCM?” tanyanya, seolah-olah menanyakannya kepada awak media.
Owner PT. DCM yang juga merupakan anggota dari Persatuan Doktor Indonesia (Persadi), anggota Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulawesi Barat, dan Anggota Luar Biasa Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Laskar Pembela Pancasila (PALAPA), benar-benar kebingungan dalam mencoba menguak apa yang terjadi dalam lahan di agunkan tersebut, lahan yang ditinggalkan oleh almarhum salah satu owner yang juga merupakan Ketua Real estate Indonesia (REI) Sulawesi Barat, yang meninggal beberapa tahun lalu.
Menanggapi hal tersebut, Sukri “Bang Edo” Abbas, Ketua DPD Laskar PALAPA, yang turut prihatin dengan persoalan PT. DCM ini menyampaikan “Dari semua data yang kami terima, memang ada beberapa hal yang janggal, dan ini patut dipertanyakan kesemua fihak terkait. Ini bukan hanya persoalan hak dan kewajiban, namun juga menyangkut nama baik dari beberapa Instansi yang terhubung dalam persoalan PT. DCM” ungkapnya, saat dihubungi fihak awak media via media sosial Whatsapp.
Dikutip dari finance.detik, Sabtu (6/11/2021) Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil menyatakan kehadiran mafia tanah masih terus merajalela. Kehadiran mafia tanah dianggap sebagai penyebab terjadinya kasus sengketa dan konflik pertanahan yang marak terjadi.
“Mafia tanah saat ini masih merajalela. Hal tersebut terjadi salah satunya karena jaringan mereka yang luas. Oknum mafia tanah ini terjadi di semua lini maka ini yang sangat dijadikan perhatian dari Presiden Jokowi sehingga mafia tanah tidak boleh lagi merajalela,” ujarnya.
“Peristiwa seperti ini bukan hanya terjadi pada PT. DCM, namun hal yang sama juga terungkap pada Webinar Focus Group Discussion yang bertema “Problematika Mafia Tanah di Indonesia : Solusi dan Strategi Mengatasinya untuk Penegakan Keadilan dan Kepastian Hukum” yang dilakukan oleh : Iqtishad Consulting Indonesia berkolaborasi dengan sejumlah LBH dan Lembaga terkait, yang dilaksanakan pada tanggal 09 Desember 2021, dengan narasumber Kementerian ATR/BPN (Peranan Kementerian ATR/BPN dalam Menangani Kejahatan Mafia Tanah), Mahkamah Agung RI (Dr. Pri Pambudi Teguh, SH., MH Hakim Agung – Problematika Mafia Tanah di Indonesia.”Solusi dan Strategi Penegakan hukum untuk keadilan dan kepastian Hukum), Komjen. Pol. Drs. Agus Andrianto,SH,MH (Kabareskrim Polri – Strategi Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Mafia Tanah di Indonesia), Kejaksaan Agung RI (Solusi Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Mafia Tanah di Indonesia), Kemenko Polhukam (Peranan Negara dalam Mencegah dan Memberantas Mafia Tanah di Indonesia), DPR RI (Komisi III) Dr. Pinca IP Panjaitan (Penegakan Hukum secara Adil dalam Kejahatan Mafia Tanah), Ketua KPK RI (Peran KPK dalam Pemberantasan Korupsi kasus Mafia Tanah di Indonesia), Prof. Dr. Abdul Shamad (Guru Besar Ilmu Hukum UNAIR Surabaya – Peranan Aparat Penegak Hukum dalam Menghadapi dan Memberantas Fenomena Mafia Tanah di Indoenia untuk Mewujudkan Keadian dan Kepastian Hukum), Prof. Dr. Ibrahim Siregar, M.Cl (Rektor UIN Padang Sidimpuan – Urgensi Penegakan Hukum secara Adil untuk Melindungi Hak Keperdataan Kepemilikan atas Tanah dan Kesejahteraan Rakyat), Prof. Dr. Rahayu Hartini, MH (Guru Besar UM Malang – Perspektif Ilmu Hukum tentang Kejahatan Mafia Tanah di Indonesia dan Solusinya), Sugeng, SH, M.Si (Ketua Umum LBH Prisai – Solusi dan Strategi Mengantisipasi kejahatan Mafia Tanah di Indonesia), Prof. Dr. Jawahir Hijazziy, SH, MH, M.Ag (Perlindungan Hak Keperdataan kepada Pemilik Dokumen Pertanahan – Solusi Hukum yang Adil terhadap Kasus PT.Wonorejo Perdana), Dr. Sutrisno SH. M. Hum (Ketua Assosiasi Pengacara/advokad – Solusi Legal untuk Mengatasi dan Memberantas Mafia Tanah di Indonesia), Rully Iskandar, SH (Ketua Pengwil INI DKI Jakarta & IPPAT – Peranan Notaris –PPAT dalam Mengatasi Problematika Mafia Tanah dan Pandangan Singkat tentang Keterlibatan Notaris dan Perlindungan Hukum dalam kasus Sengketa PT Wonorejo), Dr. Budi Abdullah, SH, M.Hum (LBH Islahiyah – Upaya Penegakan Hukum yang Adil dalam Kasus Mafia Tanah (Perspektif Hukum tentang Kasus Dugaan Peralihan Hak secara Melawan Hukum), Dr. Renny Supriyatni, SH.MH (Dosen Pascasarjana Fak Hukum UNPAD Bandung – Fenomena Mafia Tanah di Indonesia : Urgensi Penegakan Hukum secara Adil), M. Danil Alamsyah, SH, MH (LBH Syariah Bandung – Strategi Menghadapi Kejahatan Mafia Tanah untuk Penegakan Keadilan dan Kepastian Hukum (Respon terhadap Kasus Mafia tanah PT Wonorejo Perdana), Dr. Gemala Dewi (Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia – Perspektif Ilmu Hukum Islam tentang Kejahatan Mafia Tanah di Indonesia dan Solusinya), Dr. Yusuf Syaiful Jamil, SH, MH (Dosen Fak Hukum UNPAD Bandung – Solusi atas Dugaan Kejahatan Mafia Tanah : Studi Kasus PT Wonorejo Perdana), Dr. Ir. Andi Bukhari, MM (Dirut Bank Riau Kepri – Peranan Perbankan dalam Menghadapi Kejahatan Mafia Tanah pada kasus Kredit Investasi dan Modal Kerja), Prof. Dr. H. Hasanuddin AF (Komisi Fatwa MUI – Keputusan Ijtimak Ulama 2021 tentang Distribusi Tanah & Upaya Pemberantasan Mafia Tanah), Agustianto Mingka Presiden Direktur Consultan Indonesia Jakarta (Menegakkan Keadilan dan Kepastian Hukum di Negara Hukum (Studi Kasus Mafia Tanah di PT Wonorejo Perdana), Dr. (C) Agnes Nova Randomis, SH. M.Kn (Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Trisakti – Peranan Notaris dalam Penegakan Hukum pada Kasus Mafia Tanah di Indonesia.
“Saya akan tetap mencari kebenaran akan persoalan ini, dan jika tetap belum ada titik terang, saya akan mengadukan hal ini kepada Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo, Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI dan Kementerian Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Komisi Komisi II DPR-RI, Komisi III, DPR-RI, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Yudisial hingga ke DPP REI” tandas salah satu owner PT. DCM kepada awak media. ( )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

\

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

article 0000301

article 0000302

article 0000303

article 0000304

article 0000305

article 0000306

article 0000307

article 0000308

article 0000309

article 0000310

article 0000311

article 0000312

article 0000313

article 0000314

article 0000315

article 0000316

article 0000317

article 0000318

article 0000319

article 0000320

article 0000321

article 0000322

article 0000323

article 0000324

article 0000325

article 0000326

article 0000327

article 0000328

article 0000329

article 0000330

article 0000331

article 0000332

article 0000333

article 0000334

article 0000335

article 0000336

article 0000337

article 0000338

article 0000339

article 0000340

article 0000341

article 0000342

article 0000343

article 0000344

article 0000345

article 0000346

article 0000347

article 0000348

article 0000349

article 0000350

article 0000351

article 0000352

article 0000353

article 0000354

article 0000355

article 0000356

article 0000357

article 0000358

article 0000359

article 0000360

article 0000361

article 0000362

article 0000363

article 0000364

article 0000365

article 0000366

article 0000367

article 0000368

article 0000369

article 0000370

article 0000371

article 0000372

article 0000373

article 0000374

article 0000375

article 2990296

article 2990297

article 2990298

article 2990299

article 2990300

article 2990301

article 2990302

article 2990303

article 2990304

article 2990305

article 2990306

article 2990307

article 2990308

article 2990309

article 2990310

article 2990311

article 2990312

article 2990313

article 2990314

article 2990315

article 2990316

article 2990317

article 2990318

article 2990319

article 2990320

article 2990321

article 2990322

article 2990323

article 2990324

article 2990325

article 2990326

article 2990327

article 2990328

article 2990329

article 2990330

article 2990331

article 2990332

article 2990333

article 2990334

article 2990335

article 2990336

article 2990337

article 2990338

article 2990339

article 2990340

article 2990341

article 2990342

article 2990343

article 2990344

article 2990345

article 2990346

article 2990347

article 2990348

article 2990349

article 2990350

article 2990351

article 2990352

article 2990353

article 2990354

article 2990355

article 2990356

article 2990357

article 2990358

article 2990359

article 2990360

article 2990361

article 2990362

article 2990363

article 2990364

article 2990365

article 2990366

article 2990367

article 2990368

article 2990369

article 2990370

article 2990371

article 2990372

article 2990373

article 2990374

article 2990375

article 2990376

article 2990377

article 2990378

article 2990379

article 2990380

article 2990381

article 2990382

article 2990383

article 2990384

article 2990385

article 2990386

article 2990387

article 2990388

article 2990389

article 2990390

article 2990391

article 2990392

article 2990393

article 2990394

article 2990395

article 2990396

article 2990397

article 2990398

article 2990399

article 2990400

article 2990401

article 2990402

article 2990403

article 2990404

article 2990405

article 2990406

article 2990407

article 2990408

article 2990409

article 2990410

article 2990411

article 2990412

article 2990413

article 2990414

article 2990415

article 2000246

article 2000247

article 2000248

article 2000249

article 2000250

article 2000251

article 2000252

article 2000253

article 2000254

article 2000255

article 2000256

article 2000257

article 2000258

article 2000259

article 2000260

article 2000261

article 2000262

article 2000263

article 2000264

article 2000265

article 2000266

article 2000267

article 2000268

article 2000269

article 2000270

article 2000271

article 2000272

article 2000273

article 2000274

article 2000275

article 5500181

article 5500182

article 5500183

article 5500184

article 5500185

article 5500186

article 5500187

article 5500188

article 5500189

article 5500190

article 5500191

article 5500192

article 5500193

article 5500194

article 5500195

article 5500196

article 5500197

article 5500198

article 5500199

article 5500200

article 5500201

article 5500202

article 5500203

article 5500204

article 5500205

article 5500206

article 5500207

article 5500208

article 5500209

article 5500210

article 5500211

article 5500212

article 5500213

article 5500214

article 5500215

article 5500216

article 5500217

article 5500218

article 5500219

article 5500220

article 5500221

article 5500222

article 5500223

article 5500224

article 5500225

article 5500226

article 5500227

article 5500228

article 5500229

article 5500230

article 5500231

article 5500232

article 5500233

article 5500234

article 5500235

article 5500236

article 5500237

article 5500238

article 5500239

article 5500240

article 5500241

article 5500242

article 5500243

article 5500244

article 5500245

article 5500246

article 5500247

article 5500248

article 5500249

article 5500250

article 5500251

article 5500252

article 5500253

article 5500254

article 5500255

article 838000468

article 838000469

article 838000470

article 838000471

article 838000472

article 838000473

article 838000474

article 838000475

article 838000476

article 838000477

article 838000478

article 838000479

article 838000480

article 838000481

article 838000482

article 838000483

article 838000484

article 838000485

article 838000486

article 838000487

article 838000488

article 838000489

article 838000490

article 838000491

article 838000492

article 838000493

article 838000494

article 838000495

article 838000496

article 838000497

article 9998000441

article 9998000442

article 9998000443

article 9998000444

article 9998000445

article 9998000446

article 9998000447

article 9998000448

article 9998000449

article 9998000450

article 9998000451

article 9998000452

article 9998000453

article 9998000454

article 9998000455

article 9998000456

article 9998000457

article 9998000458

article 9998000459

article 9998000460

article 9998000461

article 9998000462

article 9998000463

article 9998000464

article 9998000465

article 9998000466

article 9998000467

article 9998000468

article 9998000469

article 9998000470

article 9998000471

article 9998000472

article 9998000473

article 9998000474

article 9998000475

article 9998000476

article 9998000477

article 9998000478

article 9998000479

article 9998000480

article 9998000481

article 9998000482

article 9998000483

article 9998000484

article 9998000485

article 9998000486

article 9998000487

article 9998000488

article 9998000489

article 9998000490

article 9998000491

article 9998000492

article 9998000493

article 9998000494

article 9998000495

article 9998000496

article 9998000497

article 9998000498

article 9998000499

article 9998000500

news-1701