Inilah Sosok Syafrudin Budiman Ketua Umum Partai UKM Indonesia, Dari Aktivis, Jurnalis dan Politisi

INDONET7.COM Jakarta – Tokoh muda pergerakan dan intelektual ini pada 7 Mei 2021 mendirikan Partai UKM Indonesia dan dipilih sebagai Ketua Umum DPP Partai UKM Indonesia di Senen, Jakarta Pusat. Partai berbasis pelaku UMKM dan Koperasi ini juga memilih Herdianti Puspitasari, S.Si sebagai Sekretaris Jenderal dan Dipl T. Peratikno Rz sebagai Bendahara Umum, serta menyusun jajaran pengurus.

Anak muda milenial ini sejak masa SMA sudah pernah terlibat sebagai aktifis pergerakan. Syafrudin Budiman sejak masuk kuliah dirinya mulai dikenal sosok muda yang energik di kalangan aktifis demokrasi, HAM, LSM, politisi dan media di Jawa Timur.

Pada tanggal 1 Mei 2002 bertepatan pada hari buruh internasional (May Day). Ia ditangkap oleh polisi saat berdemonstrasi di Jl. Semarang Surabaya, bersama 6 rekan lainnya dan digiring ke Mapolres Surabaya Utara Jl. Bubutan, Surabaya.

Koran Jawa Pos dan berbagai media cetak dan elektronik menulis berita penangkapan aktivis sebagai headline, saat berdemontrasi di hari buruh. Berkat negoisasi dengan polisi saat itu, tepat Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei, Syafrudin Budiman dan 6 rekannya dilepaskan. Tampak terlihat di foto-foto media dirinya dipukuli tongkat oleh polisi, sehingga menyebabkan tangan dan kepalanya memar.

“Bagi saya memperjuangkan rakyat tertindas adalah ibadah, tunduk dan menghamba pada kekuasan adalah syirik. Agama Islam mengajarkan untuk berbuat Amar Makruf Nahi Mungkar dan menyekutukan Allah SWT atau syirik pada kekuasaan dzolim tiada ampunan-Nya,” kata Budiman Sang Revolusioner sapaan akrabnya.

Pria kelahiran Sumenep, 21 Mei 1980 ini, memang layak disebut “Sang Revolusioner Muda.” Sejak lulus SMA dirinya sudah biasa mempimpin gerakan demonstrasi dan terlibat dalam isu-isu HAM dan demokrasi.

Ketika semangat reformasi sedang digelorakan oleh Amien Rais, Gus Dur, Megawati dan tokoh politik nasional lainnya. Kira-kira antara tanggal 23-24 Mei 1998 dan tepat beberapa hari setelah ulang tahunnya ke 18. Syafrudin Budiman memimpin demontrasi besar-besaran di Kabupaten Sumenep menuntut bergulirnya reformasi. Tepat dua hari setelah momen jatuhnya Diktator Presiden Suharto.

“Isu yang diusung saat ia memimpin demonstrasi reformasi 98 diantaranya, menuntut penuntasan kasus-kasus korupsi, pengadilan terhadap Suharto dan Cabut Dwi Fungsi ABRI/TNI. Selanjutnya isu pencabutan lima paket UU politik, kebebasan pers, serta penegakan HAM dan demokrasi,” terang pengagum Che Guevara dan Soe Hoek Gie ini.

Waktu itu Reformasi 98 juga menggelinding sampai ke Kabupaten Sumenep kota kelahirannya. Sama seperti kota-kota lainnya di Indonesia. Sedangan untuk Sumenep isu yang digelindingkan adalah pemberantasan korupsi di Kabupaten Sumenep yaitu, sembako murah, reformasi birokrasi dan mendesak turunnya Soekarno Marsaid (Bupati Sumenep saat itu).

Syafrudin Budiman dengan penuh semangat bersama teman-temannya tetap melakukan demontrasi, walaupun waktu itu ada himbauan untuk tidak melakukan demontrasi. Ia waktu itu, memimpin langsung demontrasi dengan memakai kaos putih “Bull Dog Fish”.

Demontrasi itu berjalan lancar dan secara resmi diterima pimpinan DPRD Kabupaten Sumenep, Polres dan menuju kantor Bupati mendesak Soekarno Marsaid mundur. Ia tetap memimpin aksi demontrasi di tengah-tengah massa yang sudah panas, bahkan bisa saja menjadi anarkis dan terjadi chaos. Syafrudin Budiman malah tampak tenang dan terus melakukan demontrasi.

“Massa sudah panas dan tetap ingin menyuarakan aspirasinya waktu itu. Saya bilang, biarkan kami berdemonstrasi, yang penting aman dan saya yang bertanggungjawab,” ucapnya kepada aparat yang ikut was-was melihat keadaan waktu itu.

Setelah bulan Mei 1998, ia langsung mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa Inggris. Selesai Ospek (orentasi pendidikan kampus) dan sebelum memulai menerima pelajaran mata kuliah, tepat tanggal 9 September 1998. Syafrudin Budiman bersama teman-teman mahasiswa se-angkatan, mulai mengikuti demontrasi dengan isu menolak kedatangan Presiden BJ Habibie pada Hari Olahraga Nasional.

Ia ikut aksi bersama 3000-an mahasiswa Surabaya yang tergabung dalam Arek Pro-Reformasi (APR) yang beraliansi dengan massa buruh dan PDI Perjuangan mendemonstrasi Presiden “BJ Habibie”.

“Diantara para korban yang kena pukul aparat, banyak temen-teman saya sekelas. Saya cukup prihatin, tapi kejadian itu tak pernah menyurutkan saya bergerak,” kata Rudi dengan menceritakan kejadian yang terjadi.

Sejak momen demontrasi itulah ia mulai mengenal senior-seniornya di kampus UWKS. Disanalah semangat revolusionernya terpatri dan menggelora.

Ratusan demontrasi dan diskusi ilmiah sering dia ikuti, sehingga akhirnya ia memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Bahasa Inggris FKIP UWKS. Jurusan ini ditinggalkannya dan pindah ke Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UWKS untuk mengasah kepekaan sosialnya.

Sampai menjelang pemilu legeslatif 1999, Syafrudin Budiman mulai resah. Reformasi yang ia gelorakan bersama teman-temannya, mulai akan dibajak oleh partai politik berbendera reformis gadungan dan sisa-sisa orde baru.

Kebutuhan untuk terlibat aktif dalam kancah politik kemasyaratan mulai tumbuh. Apalagi saat itu dirinya diajak oleh seniornya di FISIP UWKS, Moh. Sholeh mengajaknya untuk bergabung ke Partai Rakyat Demokratik (PRD). Sebuah partai politik yang mengusung jargon idealisme “Sosial Demokrasi Kerakyatan.”

“Saya sering di-indentikkan sebagai aktifis kiri. Walaupun keluarga saya dari aktifis dan tokoh Muhammadiyah/Islam Modernis. Kiri bagi saya adalah simbol perlawanan terhadap penindasan dan Muhammadiyah berada didepan melawan penindasan, terutama membela kaum mustada’afin (kaum lemah) dari kemiskinan dan kebodohan,” ujar Syafrudin Budiman yang ibunya pernah menjadi Ketua PD Aisyiah Kabupaten Sumenep dan bapaknya adalah ustad di Majelis Tabligh Muhammadiyah Kabupaten Sumenep.

Bersama Moh. Sholeh (saat ini menjadi pengacara terkenal di Jawa Timur) dan beberapa temannya di kampus yang tergabung dari organisasi benama ABRI (Aliansi Bersama Rakyat Indonesia). Budiman Sang Revolusioner ini mengusung bendera PRD sebagai simbol perlawanan politik terhadap kekuasaan.

Syafrudin Budiman ditunjuk sebagai Ketua Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (KPK PRD) Kabupaten Sumenep oleh Moh. Sholeh Ketua KPW PRD Propinsi Jawa Timur. Pilihannya bergabung ke PRD tidaklah mudah, tentangan dari keluarga dan temannya mulai dirasakan sebagai konsekuensi pilihan politiknya.

“Sayang PRD gagal tampil sebagai partai politik. Tetapi niat tulus untuk memperjuangkan rakyat kecil tidak hanya lewat parpol, namun juga bisa lewat pendampingan secara intensif di basis rakyat,” terang Rudi yang sering mengorganisir petani, buruh, mahasiswa dan kaum miskin kota

Lewat pemilu 1999 inilah, ia mulai banyak mengenal dan dikenal oleh tokoh-tokoh lokal Kabupaten Sumenep.

Apalagi menjelang pemilihan Bupati Sumenep 2000-2005, Sang Revolusioner muda ini dengan tegas menyuarakan menolak tampilnya kepemimpinan militer. Dalam hal ini ia menolak dipilihnya kembali Letkol Soekarno Marsaid sebagai Bupati Sumenep.

Aktifis Internal dan Eksternal Kampus

Usai pemilu 1999, dirinya kembali ke kampus dan aktif sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi Ilmu Politik FISIP UWKS. Drs. Bambang Supriadi, Msi., Dekan FISIP yang sekaligus guru politiknya ini pernah mengatakan padanya. “Kamu memang pantas masuk FISIP, karena dapat menunjang minatmu di bidang sosial dan politik,” katanya menirukan kata-kata Dekannya.

Sebagai mahasiswa progresif ia tak terlalu sulit beradaptasi pada pergerakan mahasiswa internal dan eksternal kampus. Sambil memegang kendali sebagai Ketua HMJ Ilmu Politik, dirinya juga dipercaya sebagai Ketua Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP).

Dirinya biasa dipanggil Acong di kampusnya, juga menerima amanah sebagai Bendahara Senat Mahasiswa Univeritas Wijaya Kusuma Surabaya (SEMA-UWKS).

Terakhir ia memangku amanah sebagai Ketua I Bidang Organisasi SEMA-UWKS dan dipercaya sebagai Ketua Sterring Komite, Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) SEMA-UWKS. Sebuah bentuk perkaderan tingkat tinggi di kampus yang didirikan tokoh-tokoh Golkar Jatim.

“Di kampus inilah saya banyak berdiskusi dan mengembangkan pemikiran. Ir. Bambang Eko Witono, PR III UWKS saya saat itu, banyak membantu wawasan saya. Dia pernah bilang kepada, kalau ingin sukses kita tidak boleh berfikir sempit dan serius menunjukkan jati diri sendiri,” terangnya mengenang saat jadi mahasiswa.

Selain aktif di internal kampus, Putra bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Ach. Zainuddin HR dan Mardhiyah ini, juga aktif dalam gerakan mahasiswa ekstra kampus. Kebetulah Syafrudin Budiman lebih memilih Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), mengingat keluarganya adalah aktifis dan tokoh besar Muhammadiyah.

Pengalaman Organisasi di ektra kampus itu dimulai menjadi Ketua Umum Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (2002-2004) dan Ketua (Bidang Hikmah) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC-IMM) Kota Surabaya. (2004-2005).

Selanjutnya juga menerima amanah sebagai Ketua (Bidang Hikmah) DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Timur (2004-2006) dan terlibat aktif pada pendirian PC IMM Sumenep dan ditunjuk menjadi Ketua Umum (Cartaker) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Sumenep (2005-2007).

Usai aktif di IMM Jawa Timur, Syafrudin Budiman juga menerima amanah sebagai Sekretaris (Bidang Sosek) Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (2006-2007) dan melalui resuffle dirnya dipilih sebagai Ketua (Bidang Sosek) Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (2007-2008).

Di IMM anak muda ini dikenal sebagai “Macan Sidang” ketika ia menerima palu, tak pernah palu itu lepas dari tangannya dan kalau berdebat dengannya harus rasional dari sisi pemikirannya. Jika tidak, oleh macan sidang ini keinginan tersebut akan ditolak mentah-mentah. Bahkan ia tak segan-segan mengeluarkannya dari area sidang kalau tak mentaai aturan sidang.

Sebagai Mantan anggota Biro Bidang Politik KNPI Jawa Timur (2005-2010) dan Ketua Umum Lingkar Studi Mahasiswa (LISUMA) Indonesia Propinsi Jawa Timur (2008-2009). Syafrudin Budiman selalu diminta menjadi pimpinan sidang di even-even besar, diantaranya pernah menjadi Ketua Presedium Sidang Muktamar IMM XII di Ambon (Mei 2006) dan Ketua Presedium Sidang Tanwir IMM Jelang Muktamar XIII di Bandar Lampung (Juli 2008).

Pegiat Demokrasi dan HAM

Nama dan tampang Syafrudin Budiman sering menghiasi media cetak dan elektronik saat menjadi aktifis hingga hari ini. wacana dan statemen-nya sering masuk di media-media lokal dan nasional. Terkait isu-isu sosial budaya, ekonomi, politik, hukum dan pemerintahan.

Sebagai aktifis Mahasiswa, dirinya juga aktif dalam isu HAM dan demokrasi. Dirinya bersama Hendy Prayogo (Sekretaris PSMTI Jawa Timur), tercatat dalam sejarah pernah mengundang aktivis HAM, (Alm) Munir SH ke SMU Muhammadiyah 2 Pucang Jl. Pucang Anom 91 Surabaya.

Dalam sebuah acara Malam Peringatan Tragedi Mei 98 dan Refleksi enam Tahun Reformasi, tepatnya pada 17 Mei 2005.

Saat itu, Syafrudin Budiman sebagai Ketua Panitia dan Rubaidi, Wakil Sekretaris PW Nahdlatul Ulama Jawa Timur sebagai Sekretaris Panitia.

Selanjutnya tahun 2006 lalu, Rudi juga menggelar acara yang sama dan mengundang aktivis HAM, Ester Endrayani Yusuf, SH (Solidaritas Nusa Bangsa) dalam acara Malam Peringatan Tragedi Mei 1998 dan Refleksi Tujuh Tahun Reformasi, Senin 16 Mei di halaman SMU Muhammadiyah 2, Jalan Pucang Anom 91, Surabaya. Saat itu juga, Syafrudin Budiman sebagai Ketua Panitia dan Amelia Aini, Sekretaris PW Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Jawa Timur sebagai Sekretaris Panitia.

Acara yang diselenggarakan dua tahun berturut-turut tersebut, banyak hadir tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas), LSM, mahasiswa, aktifis demokrasi dan HAM, tokoh tionghoa Jawa Timur dan para seniman. Acara itu berlangsung khidmat dengan pembacaan doa dan nyala lilin dengan lampu remang-remang untuk mengingat para korban tragedi Mei 98.

Syafrudin Budiman saat pidato pembukaan acara tersebut mengatakan, pihaknya mendesak pemerintah agar mengusut tuntas tragedi Mei 1998 dan mengadili jenderal pelanggar HAM yang terlibat peristiwa Mei, serta mencabut produk undang-undang yang anti demokrasi dan melanggar HAM.

Terlibat Politik Kebangsaan

Semua orang tidak ragu lagi ketika dirinya dipercaya sebagai Sekretaris Inisiator Partai Matahari Bangsa (PMB) Jatim dan Sekretaris Pimpinan Wilayah PMB Jatim.

Selain memang berbakat dalam dunia politik, dirinya juga lahir dari kalangan keluarga Politisi Muhammadiyah. Saat ia menjadi pendiri PMB usianya masih 26 tahun dan ia juga masih menjabat Ketua Bidang Sosek Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah periode 2006-2008.

Disaat usianya 31 tahun Syafrudin Budiman terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Imarah Pimpinan Wilayah Partai Matahari Bangsa (PW PMB) Jawa Timur melalui hasil reshuffle kepengurusan. Saat ini ia adalah salah satu ketua partai termuda di Jawa Timur dari 34 parpol yang ada di Jawa Timur.

Dirinya dipilih untuk menggantikan Mufti Mubarok yang terlibat aktif pada pendirian Partai Nasdem dan Ormas Nasional Demokrat. Wajar saja jika dirinya yang juga Konsultan Politik dan Media ini dipilih menjadi Ketua PW PMB Jawa Timur. Mengingat komitmen dan konsistensi perjuangannya tidak mengedepankan gerakan pragmatisme semata.

Dalam Rapimnas Partai Matahari Bangsa 30 April – 01 Mei 2011 di Hotel Gren Alia Cikini Jakarta, ia menyampaikan pidato politiknya.

“Warga Muhammadiyah dan generasi muda-nya tidak bisa berpijak pada kaki orang lain, namun harus berpijak pada kaki sendiri. Mengingat cita-cita dan tujuan Muhammadiyah tergantung para kadernya. Termasuk keterlibatannya dalam dunia politik kebangsaan,” katanya disambut aplaus dari peserta Rapimnas.

Syafrudin Budiman pernah Calon Anggota Legestalif (caleg) Daerah Pemilihan VIII (Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Jombang, Kabupaten Madiun dan Kota Madiun) nomor urut 1, tetapi gagal terpilih. Sang Revolusioner ini tak pernah menyerah dan frustasi dalam perjuangan kerakyataan dan kebangsaan di Jawa Timur.

Setelah itu dirinya bergabung ke Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai Caleg DPR RI Tahun 2014. Setelah secara resmi PMB bergabung dengan partai yang dikomandani Hatta Rajasa ini.

Ia saat itu menjadi Caleg DPR RI PAN Dapil Jatim I Surabaya – Sidoarjo. Politisi muda ini maju sebagai Caleg PAN berdasarkan usulan Ketua Umum PP PMB, Imam Addaruqutni. Ia pada 2019 sempat bergabung ke PSI sebagai Caleg DPRD Propinsi Jawa Timur Dapil 14 Madura No 1.

Dirinya juga aktif sebagai Ketua Umum Presidium Pusat Barisan Pembaharuan (PP-BP) organisasi relawan yang mendukung Jokowi-Amin 01 pada Pilpres 2019. Bersama Aliansi Relawan Jokowi (ARJ), Koalisi Nasional Relawan Muslim Indonesia (KN-RMI) dan Posko Relawan 01 banyak terlibat aktif pada kegiatan-kegiatan pemenangan dan sosialisasi pemerintahan Jokowi-Amin.

Konsultan Media dan Politik

Dengan pengalamannya dibidang media dan politik, Syafrudin Budiman juga aktif gerakan intelektual dengan menjadi Jurnalis, Penulis, Analis Pemerhati Sosial Politik dan Media. Hal ini menjadi mata pencahariannya sejak di mahasiswa 2021. Dirinya juga sering diundang oleh-oleh TV, Radio dan media cetak untuk mengisi dialog dan wawancara tentang situasi politik lokal dan nasional.

Beberapa media tersebut yang sering meliput Syafrudin Budiman diantaranya, RCTI, Metro TV, TVRI, JTV, SBO TV, Madura Channel, RRI, Nada FM, Suara Surabaya, Radio Muslim Surabaya dan berbagai media cetak dan elektronik lainnya.

Syafrudin Budiman juga spesialis bidang media dalam Tim Kampanye dan Politik Personal Branding bagi calon bupati dan wakil bupati, serta anggota DPR RI, DPRD Jatim dan DPRD Kabupaten/Kota.

Bahkan pada Pilpres 2019, ia dipercaya menjadi kordinator media center Rumah Aspirasi Rakyat 01 Jokowi-Amin oleh Deddy Yesfry Sitorus berdasarkan rekomendasi Bang Jay dan Almarhum Muhammad Yamin (Ketua Umum Seknas Jokowi).

“Sebagai jurnalis, penulis, analis media dan sosial politik saya sangat senang, sehingga bisa menyampaikan ide, gagasan dan bahkan kritik,” kata pria yang gemar musik rock alternatif ini.

Karirnya di bidang media dan lembaga sosial kemasyarakatan cukup bagus. Pengalaman kerjanya ia mulai sebagai Reporter dan Wakil Manejer Radio WK FM Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (2001-2003), Wartawan Surabaya Post (2002-2003), Wartawan dan Kepala Biro Radar Minggu (2004-2006).

Selain itu pegiat seni dan budaya ini juga pernah menjadi Redaktur Koran Mandarin Rela Warta/Cheng Bao (2004-2005) milik sahabatnya almarhum Hendi Prayogo (Sekretaris PSMTI Jawa Timur).

Pernah juga menjadi konstributor di media persyarikatan Muhammadiyah www.muhmmadiyah.or.id (2006-2007). Dirinya sebelumnya juga pernah menjadi kontributor Republika (2010) di Madura dan Redaktur Senior di www.jifoksi-mti.com, sebuah media khusus informasi pengadaan barang jasa dan konstruksi.

Dalam media seni dirinya pernah mendirikan liputanwinda.com (Warta Indonesia Berbudaya), dimana ia menjadi pemilik dan penulis. Ia juga pernah jadi Ketua Panitia Festival Madura 2009, sebuah festival kebudayaan yang digelar tiga hari dengan bendera Plat M.

Selain saat Pilpres 2019, ia juga aktif sebagai Ketua Festival Film Pendek Jokowi 2018, Workshop Batik 2019, Festival Melukis Jokowi (Lukis Mural, Melukis Kopi, Workshop Melukis, Melukis Cepat dan Pameran Lukisan Jokowi) 2019 di Rumah Aspirasi Rakyat 01 Jl. Proklamasi 46 Jakarta Pusat.

“Saya sangat senang terlibat dalam kegiatan kebudayaan. Melalui budaya kita bisa memberikan pesan-pesan moral dan humanitas untuk kebangsaan,” tukasnya.

Sementara itu dalam kegiatan sosial kemasyarakatan Rudi pernah bekerja sebagai Koordinator Entry Data Pemilu Legeslatif 2004, Pilpres I dan II di Jawa Timur 2005 DPD IMM Jawa Timur. Ia juga terlibat aktif sebagai Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih Rakyat (JPPR) DPD IMM Jawa Timur bekerjasama dengan The Asia Fondation (2004-2005).

Sebagai konsultan Media dan Politik Syafrudin Budiman memiliki lembaga yang bergerak pada Riset dan Penelitian dengan nama Lembaga Andalan (Analis Politik dan Media) (2004-sekarang). Lewat lembaga ini dirinya sering menerima order untuk sebuah pemetaan politik, magerial dan opinion building politik.

Tulisan dan karya ilmiahnya sering dimuat di berbagai media cetak dan online, terkait masalah Pilkada dan Pemilu. Ia juga sering diundang menjadi pembicara dalam Diskusi, Seminar, Pelatihan dan Focus Group Discussion (FGD).

Cicit Tokoh Besar Muhammadiyah dan Nadlatul Ulama (NU)

Syafrudin Budiman adalah cicit dari (Alm) KH.Mas Mansur, Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah jaman kemerdekaan, yang juga Inspirator berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MAIA) yang bermetamorfosa menjadi Masyumi.

KH. Mas Mansur berhasil melakukan gebrakan politik yang cukup berhasil bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya MAIA, bersama Hasyim Asy’ari dan Wahab Hasboellah yang keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU).

KH Mas Mansur juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Demikian juga ketika Jepang berkuasa di Indonesia, KH. Mas Mansur termasuk dalam empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang terkenal dengan empat serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansur. (id.wikipedia.org/wiki/Mas_Mansoer#Terpilih_menjadi_Ketua_PB_Muhammadiyah).

KH Mas Mansur termasuk dalam Keluarga Besar Sagipodin (Bani Gipo) yang dikenal memiliki akar yang kuat di kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, Kedua Cucu Sagipodin yakni KH Mas Mansur dan KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) merupakan dua tokoh penting dalam pertumbuhan Muhammadiyah dan NU.

Dimana yang seorang dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, sementara seorang lagi mendapat amanat sebagai Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) Pertama kali.

Selain sebagai Cangka dari KH. Mas Mansur, Syafrudin Budiman juga merupakan cangka dari R. Musaid “Seorang Pejuang Budaya,” yang juga seorang tokoh Muhammadiyah di Sumenep Madura.

Jadi sangat wajar jika Syafrudin Budiman secara politik kebangsaan mewakili KH. Mas Mansur atau KH. Hasan Bisri (Hasan Gipo) dan dari sisi cintanya kepada kebudayaan Syafrudin Budiman mewakili Raden Musaid “Werdisastro”.

Raden Musaid adalah Sastrawan Legendaris yang berjasa menulis Babad Sumenep. Awalnya penulisan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pelurusan sejarah terutama sejarah Islam di sumenep dalam bingkai dinamika hubungan antar etnik yang berlangsung damai.

Dalam Babad itu digambarkan pula tumbuh kembang sebuah komunitas masyarakat berperadaban dan berperilaku elok yang disebut Bangselok.

Sebagai Budayawan dan Pejuang secara cerdik Raden Musaid berupaya mengobarkan semangat perjuangan anti penjajahan kolonial belanda melalui simbol dan kiasan yang banyak terdapat dalam Babad yang dikarangnya.

Raden Musaid mendapat gelar “WERDISASTRO.” dan mendapat penghargaan sejumlah uang gulden dari Belanda, karena kemampuannya dalam sastra.

Sejak itulah Raden Musaid dikenal sebagai R. Musaid Werdisastro, ketika tarikh masehi menginjak 15 Pebruari 1914 Naskah Babad Sumenep tersebut naik cetak dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sehingga anggapan Raden Musaid sebagai sastrawan lokal menjadi terbantahkan, Babad Sumenep menjadi sebuah naskah budaya yang memperkaya khazanah budaya dan sejarah bangsa.

Raden Musaid yang budayawan dan cendikiawan memiliki kedekatan dengan Kyai Haji Mas Mansur yang berdarah Sumenep, dalam berbagai biografi disebutkan bahwa KH Mas Achmad Marzuki (ayahanda Mas Mansur) terhitung masih keturunan dari bangsawan Sumenep.

“Raden Musaid menjadi penggerak pengembangan Muhammadiyah di Sumenep, beliau secara tegas menolak dikotomi NU-Muhammadiyah, menurutnya NU-Muhammadiyah atau Ormas keagamaan lainnya sama-sama bisa menjadi jembatan pergerakan berbasis keagamaan yang bisa mengantarkan ummat menggapai pencerahan spiritual,” kata Gus Din sapaan akrab Syafrudin Budiman.

Lahir Dari Keluarga Pergerakan Politik dan Dakwah

Syafrudin Budiman memiliki kakek almarhum Ustadz atau KH. Abd.Kadir Muhammad (AKM) adalah Ketua PD Muhammadiyah Sumenep-Madura yang juga mantan anggota DPRD Sumenep dari Masyumi. Sementara Bapaknya Ustadz Ach. Zainudddin HR pernah menjadi Ketua PCM Sumenep/Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah.

Sedangkan Ibunya Mardhiyah adalah mantan Ketua Umum Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiah Sumenep (PD NA) periode 1992-1997.

Kedua orangtuanya sama-sama aktifis PII dan KAPPI/KAMMI tahun 66-67 dan sempat aktif di GPI underbow Masyumi.

“Saya memang lahir dari keluarga politisi dan keluarga struktur Muhammadiyah. Malah yang mendorong saya bergabung ke Partai Matahari Bangsa (PMB) adalah keluarga sendiri. Ketika kami kedatangan KH. Imam Addaruqutni, Ketua Umum PP PMB di Sumenep Madura 2007 lalu, yang menyambut hangat adalah keluarga besar AKM,” kata Gus Din bercerita.

Walaupun Syafrudin Budiman lahir dari keluarga Muhammadiyah dan NU. Dirinya tetap dipanggil Gus oleh beberapa kyai, santri dan kalangan Nadliyin. Sebab, selain lahir dari keluarga berpendidikan, ningrat dan tokoh-tokoh agama, Gus Din dikenal sangat berbaur dengan kalangan NU di Madura dan Jawa Timur.

Keluarga besar Gus Din semuanya dimakamkan di Pemakaman Raja-Raja Asta Tinggi, tepatnya di Komplek Pemakaman Adipati Suroadimenggolo dan Adipati Priggolojo, yang juga mertua dan ipar Sultan Abdurrahman (Panembahan Semolo/Pakunata Diningrat I) Raja Sumenep.

Politisi Muda Bersih dan Anti Suap

Gus Din sebagai Ketua DPW PMB Jatim saat itu dikenal dengan dengan kalangan NU. Terbukti dirinya loyal mendukung calon Gubernur Khofifah Indar Parawasa pada Pilgub 2013.

Konsistensi mendukung Khofifah dan menolak disuap 2 Milyar oleh kelompok Soekarwo untuk mencabut dukungan kepada Khofifah ditolaknya.

Langkah Gus Din banyak mendapat pujian karena menolak begal demokrasi, diantaranya dari KH. Hasyim Muzadi, KH. Salahuddin Wahid dan Rizal Ramli.

“Saya takjub sama mas Syafrudin Budiman, politisi muda yang teruji dan komitmen pada perjuangan. Walau ancaman dan godaan ada dihadapannya,” kata Khofifah dalam konferensi pers menolak pembegalan politik, Mei 2013 lalu.

Yang menjadi saksi kejadian nyata tersebut adalah KH. Imam Addaruqutni MA Ketua PP PMB dan sekarang Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang terus digoda mencabut dukungan. Bahkan, kadang KH. Imam Addaruqutni sering menyampaikan kepada generasi muda Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) untuk meniru langkah Syafrudin Budiman, Politisi Muda yang tidak goyah dan komitmen perjuangan walau digoda uang milyaran.

“Saya termasuk salut akan perjuangkan Syafrudin Budiman. Langkah dan gerakannya bisa menjadi contoh generasi muda kedepannya,” kata Imam Addaruqutni saat disambangi Syafrudin Budiman dikediamannya, Juli 2021 lalu. (May)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

\

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

article 9998000471

article 9998000472

article 9998000473

article 9998000474

article 9998000475

article 9998000476

article 9998000477

article 9998000478

article 9998000479

article 9998000480

article 9998000481

article 9998000482

article 9998000483

article 9998000484

article 9998000485

article 9998000486

article 9998000487

article 9998000488

article 9998000489

article 9998000490

article 9998000491

article 9998000492

article 9998000493

article 9998000494

article 9998000495

article 9998000496

article 9998000497

article 9998000498

article 9998000499

article 9998000500

article 9998000501

article 9998000502

article 9998000503

article 9998000504

article 9998000505

article 9998000506

article 9998000507

article 9998000508

article 9998000509

article 9998000510

article 9998000511

article 9998000512

article 9998000513

article 9998000514

article 9998000515

article 9998000516

article 9998000517

article 9998000518

article 9998000519

article 9998000520

article 9998000521

article 9998000522

article 9998000523

article 9998000524

article 9998000525

article 9998000526

article 9998000527

article 9998000528

article 9998000529

article 9998000530

article 838000468

article 838000469

article 838000470

article 838000471

article 838000472

article 838000473

article 838000474

article 838000475

article 838000476

article 838000477

article 838000478

article 838000479

article 838000480

article 838000481

article 838000482

article 838000483

article 838000484

article 838000485

article 838000486

article 838000487

article 838000488

article 838000489

article 838000490

article 838000491

article 838000492

article 838000493

article 838000494

article 838000495

article 838000496

article 838000497

article 5500226

article 5500227

article 5500228

article 5500229

article 5500230

article 5500231

article 5500232

article 5500233

article 5500234

article 5500235

article 5500236

article 5500237

article 5500238

article 5500239

article 5500240

article 5500241

article 5500242

article 5500243

article 5500244

article 5500245

article 5500246

article 5500247

article 5500248

article 5500249

article 5500250

article 5500251

article 5500252

article 5500253

article 5500254

article 5500255

article 5500256

article 5500257

article 5500258

article 5500259

article 5500260

article 5500261

article 5500262

article 5500263

article 5500264

article 5500265

article 5500266

article 5500267

article 5500268

article 5500269

article 5500270

article 5500271

article 5500272

article 5500273

article 5500274

article 5500275

article 5500276

article 5500277

article 5500278

article 5500279

article 5500280

article 5500281

article 5500282

article 5500283

article 5500284

article 5500285

article 2000256

article 2000257

article 2000258

article 2000259

article 2000260

article 2000261

article 2000262

article 2000263

article 2000264

article 2000265

article 2000266

article 2000267

article 2000268

article 2000269

article 2000270

article 2000271

article 2000272

article 2000273

article 2000274

article 2000275

article 2000276

article 2000277

article 2000278

article 2000279

article 2000280

article 2000281

article 2000282

article 2000283

article 2000284

article 2000285

article 2000286

article 2000287

article 2000288

article 2000289

article 2000290

article 2000291

article 2000292

article 2000293

article 2000294

article 2000295

article 2990356

article 2990357

article 2990358

article 2990359

article 2990360

article 2990361

article 2990362

article 2990363

article 2990364

article 2990365

article 2990366

article 2990367

article 2990368

article 2990369

article 2990370

article 2990371

article 2990372

article 2990373

article 2990374

article 2990375

article 2990376

article 2990377

article 2990378

article 2990379

article 2990380

article 2990381

article 2990382

article 2990383

article 2990384

article 2990385

article 2990386

article 2990387

article 2990388

article 2990389

article 2990390

article 2990391

article 2990392

article 2990393

article 2990394

article 2990395

article 2990396

article 2990397

article 2990398

article 2990399

article 2990400

article 2990401

article 2990402

article 2990403

article 2990404

article 2990405

article 2990406

article 2990407

article 2990408

article 2990409

article 2990410

article 2990411

article 2990412

article 2990413

article 2990414

article 2990415

article 2990416

article 2990417

article 2990418

article 2990419

article 2990420

article 2990421

article 2990422

article 2990423

article 2990424

article 2990425

article 2990426

article 2990427

article 2990428

article 2990429

article 2990430

article 2990431

article 2990432

article 2990433

article 2990434

article 2990435

article 2990436

article 2990437

article 2990438

article 2990439

article 2990440

article 2990441

article 2990442

article 2990443

article 2990444

article 2990445

article 2990446

article 2990447

article 2990448

article 2990449

article 2990450

article 2990451

article 2990452

article 2990453

article 2990454

article 2990455

article 10000286

article 10000287

article 10000288

article 10000289

article 10000290

article 10000291

article 10000292

article 10000293

article 10000294

article 10000295

article 10000296

article 10000297

article 10000298

article 10000299

article 10000300

article 10000301

article 10000302

article 10000303

article 10000304

article 10000305

article 10000306

article 10000307

article 10000308

article 10000309

article 10000310

article 10000311

article 10000312

article 10000313

article 10000314

article 10000315

article 0000331

article 0000332

article 0000333

article 0000334

article 0000335

article 0000336

article 0000337

article 0000338

article 0000339

article 0000340

article 0000341

article 0000342

article 0000343

article 0000344

article 0000345

article 0000346

article 0000347

article 0000348

article 0000349

article 0000350

article 0000351

article 0000352

article 0000353

article 0000354

article 0000355

article 0000356

article 0000357

article 0000358

article 0000359

article 0000360

article 0000361

article 0000362

article 0000363

article 0000364

article 0000365

article 0000366

article 0000367

article 0000368

article 0000369

article 0000370

article 0000371

article 0000372

article 0000373

article 0000374

article 0000375

article 0000376

article 0000377

article 0000378

article 0000379

article 0000380

article 0000381

article 0000382

article 0000383

article 0000384

article 0000385

article 0000386

article 0000387

article 0000388

article 0000389

article 0000390

news-1701