
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memastikan telah menyiapkan program percepatan strategis untuk pengembangan Koperasi & UMKM. Hal ini sejalan pula dengan Presiden Jokowi yang ingin agar ekonomi kerakyatan menjadi arus utama pembangunan nasional 5 tahun ke depan.
“Intinya Presiden ingin pengarus-utamaan Koperasi dan UMKM dalam pembangunan ekonomi nasional. Tugas dari Presiden adalah melakukan transformasi ekonomi untuk merubah struktur ekonomi dalam masyarakat,” ujar Teten di Gedung Smesco Jakarta, Rabu (8/1/2020).
Mendukung program tersebut, Praktisi Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi Milenial Frans Meroga Panggabean mengatakan inilah momentum pembuktian bagi Koperasi & UMKM untuk kembali ambil peran sentral sebagai tulang punggung ekonomi bangsa.
“Sebagai pelaku koperasi kami sangat bersemangat, adrenalin naik ingin segera melihat dahsyatnya hasil dari semua rakyat bergerak bersama melakukan kegiatan ekonomi dengan kekuatan yang bersumber dari rakyat itu sendiri sesuai sebagaimana definisi ekonomi kerakyatan,” kata Frans Meroga di Semarang, Kamis (09/01/2020).
Biarpun tetap mendukung, Wakil Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari ini mempertanyakan kenapa dalam Rencana Kerja Kementerian Koperasi & UKM hanya menitik beratkan pada target peningkatan ekspor. Menkop Teten berkata akan mendorong naiknya kontribusi UMKM pada kegiatan ekspor di 2024 hingga 30%, naik dua kali lipat dari saat ini yang hanya 14,5%.
“Jangan kita terlena euforia UMKM go global sehingga lupa sangat penting juga menekan impor dan menguasai pasar domestik. Kalau hanya sebatas barang konsumsi, hasil produksi UMKM di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan sangat mampu bersaing mutu dengan barang impor,” ungkap Frans setelah memimpin Rapat Kick-Off 2020 KSP Nasari.
Frans menjelaskan, bila Indonesia mampu swasembada beras, akan lahir 250.000 petani sawah baru, yang berkegiatan ekonomi senilai impor beras selama ini, lebih dari Rp.15 triliun. Juga impor buah yang sampai Rp.18 triliun tersebut, sebanding dengan terciptanya 300.000 orang petani buah baru.
Ketua DPP Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia inipun melanjutkan, akan ada sampai 350.000 petani gula baru jika melihat selama ini Indonesia impor 2,2 juta ton gula mentah. Bila dihitung lagi jenis komoditi lain seperti bawang, garam, hasil laut, dan sisa industri makanan yang juga produk agrobisnis, total akan mencapai 2 juta petani baru lahir jika UMKM fokus pada swasembada pangan.
“Sangat jelas 2 juta pengangguran akan terhapuskan. Kami menghitung memakai patokan penghasilan 5 juta sebulan. Penghasilan 5 juta sebulan tidak masuk kategori miskin kan. Luar biasa kalau UMKM fokus swasembada pangan, akan lahir sampai 2 juta petani baru yang hidup layak dengan 5 juta per bulan,” jelas lulusan MBA Universite de Grenoble, Perancis ini.
Frans yang juga Direktur Generasi Optimis Research & Consulting (GORC) ini yakin bila swasembada pertanian mampu diwujudkan, maka angka kemiskinan yang sekarang 9,41%, akan turun menjadi minimal 8,5%. Tingkat pengangguran yang saat ini 5,28%, juga akan turun menjadi minimal 4,5%. Untuk rasio gini pun yang berada di 0,382 juga akan turun signifikan sampai 2024.
“Dengan UMKM fokus juga menekan impor akan semakin mempercepat perubahan struktur ekonomi yang Pak Teten sebut berbentuk gentong. Kalau riset GORC sebut itu bentuk gunungan wayang sesuai yang dimaksud Wapres Abah KMA sebagai arus baru ekonomi dengan tujuan zero poverty,” pungkas penulis “The Ma’ruf Amin Way” ini.