Fashion Show Front Row Paris Indonesia Fashion Chamber ‘CARUBAN’ Nina Nugroho

INDONET7.COM JAKARTA-Nina Nugroho adalah label busana muslimah rancangan desainer Nina Septiana. Nina mengusung konsep Modest Fashion for Professional yang bernuansa klasik modern, yaitu memadukan gaya desain klasik yang timeless dengan pemilihan warna yang tegas yang tak lekang waktu dan gaya modern yang up to date dan mengikuti kebutuhan dan tuntutan mobilitas dunia modern.
Dalam kesempatan fashion show Front Row Paris 2022 yang digelar Indonesia Fashion Chamber (IFC) pada 4 September 2022, Nina Nugroho membawakan koleksi dengan tema ‘Caruban’. Berdasarkan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Aria Cirebon, putra Sultan Kasepuhan pada tahun 1720, disebutkan, asal mula kata Cirebon adalah Sarumban yang kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi Caruban. Kata Caruban sendiri berarti campuran. Karena daerah Caruban menjadi tempat tinggal masyarakat dari banyak budaya, diantaranya Sunda, Jawa, Arab dan Cina. Caruban kemudian mengalami perubahan menjadi Carbon, Cerbon dan akhirnya menjadi Cirebon. Para wali menyebut Caruban sebagai pusat jagat negeri yang dianggap terletak di tengah-tengah pulau Jawa.

Nina Nugroho menggunakan batik Cirebon dalam koleksinya kali ini, karena batik merupakan warisan budaya leluhur yang adiluhung dan diakui sebagai karya seni yang sangat luar biasa. Setiap gor esan motif dan ragamnya sarat akan makna dan filosofi yang agung. Makna dan filosofi ini tentu saja tidak lepas dari rentetan sejarah dan dinamika kebudayaan yang berlangsung di dalamnya, sehingga keberadaan batik tidak bisa lepas dari kondisi zaman dan rangkain peristiwa di dalamnya, tak terkecuali Batik Cirebon.
Secara khusus Nina Nugroho melakukan riset mengenai batik Cirebon melalui serangkaian wawancara dengan budayawan dan ahli sejarah Cirebon.
‘’Sejarah telah mencatat, bahwa perjalanan batik di Cirebon sudah dimulai paling tidak sejak abad ke 15 atau 16. Bahkan sangat mungkin kesenian yang adhiluhung ini sudah dimulai sejak sebelum abad 15. Hal ini bisa kita lihat pada arsitektur mega mendung Kreta Jempana yang ada di Kesultanan Kanoman yang dibuat pada tahun 1350 Saka atau 1428 M,’’ tutur Nina Nugroho mengutip hasil riset yang dilakukannya.
Keberadaan motif mega mendung yang ada pada arsitektur Kreta Jempana di Kesultanan Kanoman ini telah mengindikasikan bahwa motif mega mendung sebagai motif batik yang sangat khas di Cirebon terinspirasi dari bentuk arsitektur Kreta Jempana.
Secara periodesasi sejarah, munculnya motif mega mendung ini ada sebelum Cirebon (Caruban/Sarumban) ada, baik sebagai pedukuhan (kampung) maupun sebagai institusi kerajaan. Dengan demikian, motif batik mega mendung ini salah satu motif yang purwa (tua) di Cirebon.

Beberapa sejarawan atau budayawan Cirebon berpendapat, bahwa Sunan Gunung Jati (1448-1568) pernah mengenakan baju atau kain batik yang bermotif megamendung. Secara makna dan filosofi, mega mendung artinya pertanda untuk turunnya hujan. Dan hujan merupakan keberkahan yang turun dari langit guna memberikan manfaat untuk seluruh kehidupan di bumi.
Mega mendung sebagai pertanda turunnya hujan juga mengisyaratkan bahwa seorang pemimpin atau imam, harus turun ke bawah mengayomi dan memberikan manfaat untuk rakyatnya. Karena turunnya air hujan dilambangkang sebagai sebagai sumber kehidupan.
‘’Begitu juga pemimpin, ia adalah sumber dan tolak ukur kemakmuran bagi rakyatnya. Itulah contoh motif mega mendung yang sarat akan makna dan filosofi luhur di dalamnya,’’ ungkap Nina Nugroho.
Sementara itu terkait asal-usul, makna dan filosofi batik, menurut sebagian kaum traekat (para pengamal tasawuf atau sufi) di Cirebon mengatakan, bahwa istilah batik berasal dari kata “Ba” (ب) dan “titik” (.). Mengapa demikian ? Karena, menurut kaum tarekat di Cirebon, seluruh isi kandungan dalam al-Qur’an diringkas dalam surat al-Fatihah. al-Fatihah diringkas pada kalimat “bismillah” sementara bismillah diringkas pada huruf “ba” dan hurum “ba” diringkas pada titik.
Dari istilah ba dan titik itulah kemudian kita mengenal batik, sebuah seni yang sarat akan makna dan filosofi yang begitu agung. Dengan kata lain, pada awalnya, orang yang memakai batik ini adalah mereka yang sudah paham dan mengerti seluruh isi kandungan al-Qur’an (kitab suci) sehingga yang memakainya pun tidak sembarang orang karena harus punya tingkat spiritual yang tinggi.
Pada awalnya, batik hanya bisa dipakai oleh kalangan bangsawan keraton yang tingkat spiritualnya tinggi (sufi/wali). Karena itu, pakaian ini khusus untuk mereka sebagai simbol ketakwaan kepada sang pencipta. Dan motif batik pun merupakan simbol tingkatan bagi setiap pemakainya. Motif mega mendung, motif teratai, motif paksi naga liman, motif singa barong dan lain-lain. Semua motif-motif itu adalah tanda atau ciri dari yang memakainya. Sehingga batiknya para bangsawan yang tingkat spiritualnya tinggi berbeda dengan mereka yang tingkat spiritualnya rendah.
Pada perkembangannya, batik yang awalnya sebagai simbol pakaian yang melambangkan tingkatan spiritual kemudian berubah menjadi sebuah industri di abad 19 dan 20 an, karena motif dan keindahan coraknya sangat diminati banyak orang salah satunya perkembangan industri batik di Trusmi dan Ciwaringin Cirebon. Hal ini tentu saja bagian dari dinamika zaman dan bekah dari industri batik ini, beragam motif yang sarat akan makna dan filosofi.
‘’Oleh sebab itu kenapa batik hari ini harus dilestarikan, karena bukan hanya menjaga keindahan motif dan ragamnya melainkan menjaga tata nilai makna dan filosofinya. Itulah mengapa dalam koleksi saya kali ini, saya secara khusus mengangkat batik Cirebon sebagai tema,’’ ungkap Nina Nugroho.
Koleksinya sendiri terdiri dari midi shirt, shirt, tunik dan outer yang dipadankan dengan pipe pant, cullote dan skirt. Detil berupa kancing Swarovski dan diperkaya dengan interlining dari bahan Rosela yang nyaman dan lembut. Batik klasik Cirebon beragam motif dipadukan dengan bahan poly cotton premium yang menambah kesan elegan.
Nina Nugroho dengan cerdik memadukan dua motif batik yang berbeda tanpa kesan berlebihan. Bahkan di satu koleksi, Nina memadukan tiga motif batik berbeda dan berpadu sempurna dalam keseluruhan look.
Koleksi pertama terdiri dari tunik 2 in 1 dengan detil obi perpaduan batik Cirebon berwarna marun dan hitam putih di bagian lengan. Batik berwarna marun motif Kereta Paksi Naga Liman, yang merupakan kendaraan Sultan Cirebon. Keret aini memiliki senjata Trisula, yang merupakan simbol tiga kekuatan Sultan, yaitu kekuatan darat, laut dan udara. Dipadukan dengan cullote motif Mega Mendung Rara Sumanding. Rara Sumanding adalah julukan Puteri Ong Tien karena suka petis (terasi). Puteri Ong Tien adalah salah satu istri Sunan Gunung Jati, yang merupakan putri kaisar China, yakni Kaisar Hong Gie. Detil selendang di bagian belakan, menambah kesan elegan dan klasik koleksi ini. Warna marun terlihat kontras dengan batik warna hitam di bagian belakang tunik. Hijab bukan sekedar penutup kepala, tetapi menjadi penyempurna penampilan koleksi ini, dengan menggunakan material glitter.
Koleksi berikutnya perpaduan batik Wayang dengan batik motif Parang Panembahan Cirebon. Batik Wayang Terdiri dari midi shirt menggunakan Batik.
Wayang dan perpaduan bahan polos poly cotton premium berwarna gold. Detil obi menambah kesan anggun dan disempurnakan dengan hijab terbuat dari bahan brukat. Penampilan koleksi ini makin elegan dengan cape batik motif Parang Panembahan Cirebon. Motif ini di masa lalu hanya bisa dipakai oleh keluarga bangsawan atau kalangan ksatria saja. Motif jenis parang muncul di era Panembahan Ratu Cirebon I (1571 – 1649 M). Muncu juga di era Panembahan Senopati Mataram (1586 – 1601 M) dan Sultan Agung Mataram (1613 – 1645 M)
Koleksi berikut terdiri dari long coat dari Batik Wayang, shirt dan pipe pants. Batik Wayang dipadukan dengan bahan poly cotton premium berwarna coklat tua. Shirt diperkaya dengan detil berupa obi dan hijab menggunakan bahan tile. Batik Wayang merupakan simbolisasi manusia, yang mengajarkan dengan kerukunan maka manusia akan bisa hidup dengan damai.

Perpaduan Batik Patran Luwung dan Batik Wayang menjadi daya tarik koleksi selanjutnya. Terdiri dari shirt 2 in 1 dengan detil di bagian belakang, dikenakan bersama cullote. Batik Patran Luwung, bermotif keris. Nama Luwung merujuk pada Syeikh Luwung (Pangeran Raja Muhammad), yang merupakan cucu Sunan Gunung Jati yang merupakan ahli keris (Luwung). Motif ini merupakan motif klasik Cirebon.
Skirt dan tunik berbahan Batik Megamendung yang legendaris, menjadi koleksi penutup. Motif Megamendung kali ini adalah Megamendung Nyai Panata Gama. Nya Panata Gama adalah julukan untuk ibunda Sunan Gunung Jati, yakni Nya Mas Rarasantang atau dikenal juga sebagai Syarifah Mudaim. Saat itu Nyai Panata Gama adalah Guru Agung Pondok Pesantern Amparan Jati Cirebon. Julukan itu muncul karena kapasitas beliau yang mumpuni di bidang ilmu agama. Paduan skirt dan tunik Megamendung berwarna berwarna biru dihiasi dengan cape Batik Wayang berwana coklat sogan. Dipermanis dengan hijab berbahan glitter berwarna silver.

(MY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

\

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

article 9998000471

article 9998000472

article 9998000473

article 9998000474

article 9998000475

article 9998000476

article 9998000477

article 9998000478

article 9998000479

article 9998000480

article 9998000481

article 9998000482

article 9998000483

article 9998000484

article 9998000485

article 9998000486

article 9998000487

article 9998000488

article 9998000489

article 9998000490

article 9998000491

article 9998000492

article 9998000493

article 9998000494

article 9998000495

article 9998000496

article 9998000497

article 9998000498

article 9998000499

article 9998000500

article 9998000501

article 9998000502

article 9998000503

article 9998000504

article 9998000505

article 9998000506

article 9998000507

article 9998000508

article 9998000509

article 9998000510

article 9998000511

article 9998000512

article 9998000513

article 9998000514

article 9998000515

article 9998000516

article 9998000517

article 9998000518

article 9998000519

article 9998000520

article 9998000521

article 9998000522

article 9998000523

article 9998000524

article 9998000525

article 9998000526

article 9998000527

article 9998000528

article 9998000529

article 9998000530

article 838000468

article 838000469

article 838000470

article 838000471

article 838000472

article 838000473

article 838000474

article 838000475

article 838000476

article 838000477

article 838000478

article 838000479

article 838000480

article 838000481

article 838000482

article 838000483

article 838000484

article 838000485

article 838000486

article 838000487

article 838000488

article 838000489

article 838000490

article 838000491

article 838000492

article 838000493

article 838000494

article 838000495

article 838000496

article 838000497

article 5500226

article 5500227

article 5500228

article 5500229

article 5500230

article 5500231

article 5500232

article 5500233

article 5500234

article 5500235

article 5500236

article 5500237

article 5500238

article 5500239

article 5500240

article 5500241

article 5500242

article 5500243

article 5500244

article 5500245

article 5500246

article 5500247

article 5500248

article 5500249

article 5500250

article 5500251

article 5500252

article 5500253

article 5500254

article 5500255

article 5500256

article 5500257

article 5500258

article 5500259

article 5500260

article 5500261

article 5500262

article 5500263

article 5500264

article 5500265

article 5500266

article 5500267

article 5500268

article 5500269

article 5500270

article 5500271

article 5500272

article 5500273

article 5500274

article 5500275

article 5500276

article 5500277

article 5500278

article 5500279

article 5500280

article 5500281

article 5500282

article 5500283

article 5500284

article 5500285

article 2000256

article 2000257

article 2000258

article 2000259

article 2000260

article 2000261

article 2000262

article 2000263

article 2000264

article 2000265

article 2000266

article 2000267

article 2000268

article 2000269

article 2000270

article 2000271

article 2000272

article 2000273

article 2000274

article 2000275

article 2000276

article 2000277

article 2000278

article 2000279

article 2000280

article 2000281

article 2000282

article 2000283

article 2000284

article 2000285

article 2000286

article 2000287

article 2000288

article 2000289

article 2000290

article 2000291

article 2000292

article 2000293

article 2000294

article 2000295

article 2990356

article 2990357

article 2990358

article 2990359

article 2990360

article 2990361

article 2990362

article 2990363

article 2990364

article 2990365

article 2990366

article 2990367

article 2990368

article 2990369

article 2990370

article 2990371

article 2990372

article 2990373

article 2990374

article 2990375

article 2990376

article 2990377

article 2990378

article 2990379

article 2990380

article 2990381

article 2990382

article 2990383

article 2990384

article 2990385

article 2990386

article 2990387

article 2990388

article 2990389

article 2990390

article 2990391

article 2990392

article 2990393

article 2990394

article 2990395

article 2990396

article 2990397

article 2990398

article 2990399

article 2990400

article 2990401

article 2990402

article 2990403

article 2990404

article 2990405

article 2990406

article 2990407

article 2990408

article 2990409

article 2990410

article 2990411

article 2990412

article 2990413

article 2990414

article 2990415

article 2990416

article 2990417

article 2990418

article 2990419

article 2990420

article 2990421

article 2990422

article 2990423

article 2990424

article 2990425

article 2990426

article 2990427

article 2990428

article 2990429

article 2990430

article 2990431

article 2990432

article 2990433

article 2990434

article 2990435

article 2990436

article 2990437

article 2990438

article 2990439

article 2990440

article 2990441

article 2990442

article 2990443

article 2990444

article 2990445

article 2990446

article 2990447

article 2990448

article 2990449

article 2990450

article 2990451

article 2990452

article 2990453

article 2990454

article 2990455

article 10000286

article 10000287

article 10000288

article 10000289

article 10000290

article 10000291

article 10000292

article 10000293

article 10000294

article 10000295

article 10000296

article 10000297

article 10000298

article 10000299

article 10000300

article 10000301

article 10000302

article 10000303

article 10000304

article 10000305

article 10000306

article 10000307

article 10000308

article 10000309

article 10000310

article 10000311

article 10000312

article 10000313

article 10000314

article 10000315

article 0000331

article 0000332

article 0000333

article 0000334

article 0000335

article 0000336

article 0000337

article 0000338

article 0000339

article 0000340

article 0000341

article 0000342

article 0000343

article 0000344

article 0000345

article 0000346

article 0000347

article 0000348

article 0000349

article 0000350

article 0000351

article 0000352

article 0000353

article 0000354

article 0000355

article 0000356

article 0000357

article 0000358

article 0000359

article 0000360

article 0000361

article 0000362

article 0000363

article 0000364

article 0000365

article 0000366

article 0000367

article 0000368

article 0000369

article 0000370

article 0000371

article 0000372

article 0000373

article 0000374

article 0000375

article 0000376

article 0000377

article 0000378

article 0000379

article 0000380

article 0000381

article 0000382

article 0000383

article 0000384

article 0000385

article 0000386

article 0000387

article 0000388

article 0000389

article 0000390

news-1701